Kamis, 02 Mei 2013
Ssstt.. Inilah Strategi Soekarno Dengan Jasa Pelacur !
Tentara Jepang yang menduduki Indonesia haus akan seks. Mereka kerap memperkosa gadis-gadis Indonesia sebagai pemuas napsu. Budak seks tentara Jepang disebut jugun ianfu. Soekarno yang saat itu berada di Padang pun berstrategi agar tentara Jepang tidak mengganggu gadis baik-baik. Kisah Pelacur & Soekarno “Perempuan yang akan mereka rusak adalah perempuan-perempuan bangsaku. Termasuk suku Minangkabau yang terkenal taat beragama,” ujar Soekarno seperti ditulis Cindy Adams dalam buku ‘Bung Karno, Penyambung Lidah Bangsa Indonesia’. Soekarno harus mencari jalan keluar masalah seks ini. Dia pun berdiskusi dengan tokoh adat dan agama setempat. Untuk mencegah gadis baik-baik dimasukan dalam lokalisasi tentara Jepang, Soekarno mengusulkan kenapa tidak pelacur profesional saja yang dikaryakan. “Semata-mata sebagai tindakan darurat, demi menjaga para gadis kita, aku bermaksud memanfaatkan para pelacur di daerah ini. Dengan cara ini, orang-orang asing dapat memuaskan keinginannya dan sebaiknya para gadis tidak diganggu,” beber Soekarno. Usulan itu disetujui para tokoh masyarakat dengan gembira. Soekarno pun mengumpulkan sekitar 120 pelacur dan menawari mereka pekerjaan di lokalisasi tentara Jepang. Para pelacur dengan senang hati menerima tawaran Soekarno. Walau begitu Soekarno tetap merasa hal ini tidak etis. Tapi dia merasa apa yang dilakukannya adalah tindakan yang paling tepat untuk menyelamatkan banyak gadis baik-baik. Jugun ianfu sendiri disebut sebagai kejahatan perang. Meski ada yang sukarela masuk ke lokalisasi, seperti yang ditawarkan Soekarno, kebanyakan sengaja diculik oleh tentara Jepang. Mereka diperkosa lalu dimasukkan paksa dalam lokalisasi di dekat kamp-kamp militer. Modus lainnya adalah menawarkan pekerjaan pada gadis-gadis desa untuk menjadi pelayan atau pegawai pabrik di kota besar. Tapi ini hanya bohong belaka, mereka tidak pernah diberi pekerjaan. Truk-truk yang mengangkut mereka malah berhenti di depan lokalisasi. Gadis-gadis malang ini dipekerjakan secara paksa sebagai pelacur. Masalah perbudakan seks ini terjadi di seluruh wilayah yang dikuasai Jepang. Di Tiongkok, Vietnam, Filipina, Singapura dan Malaysia (Malaya) serta Vietnam. Sekitar 20.000-30.000 orang dipaksa menjadi budak seks tentara Jepang selama perang Pasifik yang berlangsung dari 1942-1945. Selain menderita secara psikis, kebanyakan jugun ianfu juga menderita penyakit kelamin. Beberapa menderita sangat parah dan tak bisa diobati. Bukan hanya gadis pribumi yang dipaksa Jepang bekerja di pelacuran. Gadis-gadis Belanda yang menjadi tawanan pun diperlakukan sama. Dalam buku ‘Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia’ karangan Rosihan Anwar diceritakan para gadis Belanda yang berada di Kamp Ambarawa dibawa serdadu Jepang dengan bus ke Semarang. Ada sembilan gadis Belanda yang diperkosa dan dipaksa menjadi pelacur di Semarang. Jepang melakukan hal sama di tujuh kamp lainnya. Tidak diketahui berapa wanita Belanda yang menjadi jugun ianfu.
dari : sumber
Mutiara Hati, Kebesaran Hati Sang Fakir Membangun Sebuah Masjid
Mungkin kita tak percaya jika tidak melihat faktanya. Seorang yang tidak kaya, bahkan tergolong miskin, namun mampu membangun sebuah Masjid di Turki. Nama masjidnya pun paling aneh di dunia, yaitu “Sanki Yedim Camii” (Masjid Anggap Saja Sudah Makan). Sangat aneh bukan? Dibalik Masjid yang namanya paling aneh tersebut ada cerita yang sangat menarik dan mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Masjid Sanki Yedim Camii berada di pinggiran kota Istanbul Turki Ceritanya begini, di sebuah kawasan Al-Fateh, di pinggiran kota Istanbul ada seorang yang wara’ dan sangat sederhana, namanya şakir efendi’ (Khairuddin Afandi). Setiap kali ke pasar ia tidak membeli apa-apa. Saat merasa lapar dan ingin makan atau membeli sesuatu, seperti buah, daging atau manisan, ia berkata pada dirinya: Anggap saja sudah makan yang dalam bahasa Turkinya “ Sanki Yedim” . Nah, apa yang dia lakukan setelah itu? Uang yang seharusnya digunakan untuk membeli keperluan makanannya itu dimasukkan ke dalan kotak (tromol)… Begitulah yang dia lakukan setiap bulan dan sepanjang tahun. Ia mampu menahan dirinya untuk tidak makan dan belanja kecuali sebatas menjaga kelangsungan hidupnya saja. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun Khairuddin Afandi konsisten dengan amal dan niatnya yang kuat untuk mewujudkan impiannya membangun sebuah masjid. Tanpa terasa, akhirnya Khairuddin Afandi mampu mengumpulkan dana untuk membangun sebuah masjid kecil di daerah tempat tinggalnya. Bentuknyapun sangat sederhana, sebuah pagar persegi empat, ditandai dengan dua menara di sebelah kiri dan kanannya, sedangkan di sebelah arah kiblat ditengahnya dibuat seperti mihrab. Masjid Sanki Yedim dibangun di pinggirian kota Istanbul Turki Akhirnya, Khairuddin berhasil mewujudkan cita-ciatanya yang amt mulia itu dan masyarakat di sekitarnyapun keheranan, kok Khairuddin yang miskin itu di dalam dirinya tertanam sebuah cita-cita mulia, yakni membangun sebuah masjid dan berhasil dia wujudkan. Tidak bayak orang yang menyangka bahwa Khairud ternyata orang yang sangat luar biasa dan banyak orang yang kaya yang tidak bisa berbuat kebaikan seperti Khairuddin Afandi. Setelah masjid tersebut berdiri, masyarakat penasaran apa gerangan yang terjadi pada AKhiruddin Afandi. Mereka bertanya bagaimana ceritana soerang yang miskin bisa membangun masjid. Setelah mereka mendengar cerita yang sangat menakjubkan itu, merekapun sepakat memberi namanya dengan: “Shanke yadem” (Angap Saja Saya Sudah Makan). Subhanallah! Sekiranya orang-orang kaya dan memiliki penghasilan lebih dari kaum Muslimin di dunia ini berfikir seperti Khairuddin, berapa banyak dana yang akan terkumpul untuk kaum fakir miskin? Berapa banyak masjid, sekolah, rumah sakit dan fasilitas hidup lainnya yang dapat dibangun? Berapa banyak infra struktur yang dapat kita realisasikan, tanpa harus meminjam ke lembaga dan Negara yang memusuhi Islam dan umatnya? Jamaah yang melimpah, tanda keberkahan dan amal sholeh dari harta yang halal dan bersih
sumber
Langganan:
Postingan (Atom)



