Rabu, 25 Februari 2015

Panti Pijat ini Menawarkan Pijat Plus-plus


Panti Pijat ini Menawarkan Pijat Plus-plus – Puluhan panti pijat di Batam, tidak lagi benar-benar menawarkan jasa untuk memijat pelanggannya. Tapi, dalam prakteknya, panti pijat tersebut malah menjajahkan praktek “bisnis perempuan” dengan menawarkan layanan seks.
Jika dilihat dari luar, tempat-tempat relaksasi di Batam, terpapang tulisan dan gambar refleksi. Di bagian pintu masuk ada bener yang bertuliskan pijat tradisional, pijat khas Thailand, lulur/body scrup, dan mandi susu.
Namun begitu masuk, ada layanan plus-plus yang ditawarkan. Setiap tamu yang datang, khususya tamu laki-laki selalu ditawarkan layanan layanan kepuasan seksual. Tarifnya, mulai dari Rp 100 ribu sampai Rp 500 ribu.
Penelusuran Tribun Batam di salah satu pijat refleksi di Jodoh, Batam, beberapa waktu lalu, terbongkar bagaimana praktek “bisnis perempuan” itu dijalankan.
Saat masuk ke dalam tempat pijat tersebut, ada enam gadis berpakaian minim duduk menunggu panggilan.
Seorang wanita di meja resepsionis mengumbar senyum dan menawarkan pijat sambil menyodorkan katalog berisi tarif jasa pijat.
Dari tarif yang tertera, terlihat normal-normal saja angka yang dipasang. Seperti pijat untuk satu jam tarifnya Rp 50 ribu dan 1,5 jam bertarif Rp 60 ribu.
Tak lama berselang, reseptionis itu pun menawarkan paket lengkap yang harganya Rp150 ribu per jam.
“Kalau mau paket lengkap aja. Ada mandi susunya,” kata si resepsionis menawarkan.
Setelah mengambil paket yang ditawarkan untuk pijat. Setiap tamu akan diantar ke kamar yang berukuran lebih kurang 3×2 meter. Kamar dilengkapi kasur tipis yang langsung menempel pada lantai dengan penerangan yang temaram.
Tidak ada pintu di dalam ruangan itu. Antar kasur satu dengan kasur lainnya hanya ditutupi kain. Di dinding ruang pijat, hanya terdapat gantungan baju.
Tidak lama, datang wanita mengenakan celana pendek ketat dan kaos oblong untuk memijat. Saat pemijatan berlangsung, wanita pemijat langsung menawarkan pijat plus dengan tarif Rp 300 ribu.
Pijat plus yang dimaksud sudah pasti layanan seks yang merupakan layanan tambahan.
“Kalau tidak dengan cara menawarkan seks, mau dapat dari mana uang tambahan. Uang ini pun nantinya dibagi lagi dengan pengelola pijat,” kata Viona, salah satu pekerja panti pijat plus-plus tersebut.
Untuk mendapatkan layanan seks di Spa & Massage, setiap tamu harus membawa uang yang lebih banyak lagi. Viona sendiri mematok harga Rp 500 ribu, jika tamunya mau layanan “tambahan”.
“Kalau Rp 100 ribu, untuk perlengkapan wanita saja tidak cukup,” katanya.
Dia mengaku punya sederet pengalaman panjang melayani laki-laki hidung belang.
Sementara Ayong selaku penanggung jawab salah satu panti pijat atau Massage & Spa, mengaku kegiatan pelayanan seks berselubung ini sudah lama dilakukan.
Agar usahanya berjalan lancar, dia sudah menyiapkan uang setoran bulanan kepada oknum pemerintah yang mengeluarkan perizinan dan pihak keamanan.
“Jika hanya pijat saja, tidak akan mungkin tamu akan datang setiap hari. Dengan adanya plus-plus, tempat Massage & Spa sudah tentu ramai berkunjung. Di Batam ini semua Massage & Spa melakukan hal yang sama,” katanya (sumber:tribunnews.com)

Sabtu, 21 Februari 2015

Pengunjung Betul-betul Dimanjakan pada Festival Durian 2015


SEMARANG, KOMPAS.com – Festival Durian 2015 di Kota Semarang yang akan digelar tanggal 6-8 Maret 2015 nantinya benar-benar akan memanjakan lidah bagi penyuka durian. Pasalnya, sebanyak 150 petani lokal dilibatkan dalam pawai festival durian ini, belum lagi petani durian dari luar wilayah Kota Semarang.

Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Jawa Tengah, WP Rusdiana mengatakan, penyelenggaraan festival digelar pada Maret karena bulan tersebut banyak buah yang sudah dalam kondisi matang dan bisa dipanen. Segala jenis buah yang ada bisa diikutkan dalam festival tersebut, terutama buah durian. “Festival durian itu salah satu memperingati hari jadi Kota Semarang. Kami ingin agar potensi buah-buahan lokal bisa lebih terkenal. Untuk mutu buah, kami berkolaborasi dengan Dinas Pertanian Jawa Tengah,” ujar Rusdiana, di Semarang, Kamis (12/2/2015).

Pada pelaksaan festival ini, Pemerintah Kota Semarang menggandeng kalangan masyarakat dan petani setempat. Pihaknya juga menggandeng kalangan asosiasi warga mijen petani buah. Hal berbeda dengan pelaksanaan Festival Durian 2014. Dalam festival durian ini, Rusdiana menginginkan agar festival durian bisa menjadi salah satu ciri dari Kota Semarang dalam mengelola produk hortikultura serta mempromosikan Kota Semarang.

Selain festival, pemerintah menyediakan berbagai stan khusus yang ditawarkan kepada masyarakat luas untuk pamer produk lokal. “Yang sudah resmi ada sekitar 150 petani. Itu kan masih lama ya, nanti mungkin bisa bertambah banyak lagi yang bergabung dalam festival,” katanya.


Festival Durian 2015 akan digelar selama tiga hari di lapangan Kelurahan Jatisari, Kecamatan Mijen. Hari pertama dijadwalkan ada lomba komoditas lima jenis buah, durian; salak; manggis; duku; dan alpukat yang berasal dari kabupaten/kota di Jawa Tengah. Kemudian hari kedua dan ketiga, ada lomba makan durian sepuasnya, lomba durian terbesar dan terberat.

“Tahun kemarin itu yang inisiasi pemerintah kecamatan saja dan khusus soal durian. Kini, kepanitiaan ada di Pemkot Semarang dan dilebarkan, tidak saja pada durian,” katanya.

Meski demikian, Pemkot Semarang tidak menargetkan berapa jumlah pengunjung yang nantinya akan ikut berpartisipasi. Pihaknya akan mengantisipasi membeludaknya pengunjung dengan menambah stok durian serta buah lainnya agar pengunjung tidak merasa kecewa.