Senin, 22 April 2013
PERTOLONGAN ALLAH SEJATI BILA KITA BERSAMA AGAMANYA
( AKHIRZAMAN ) JANGAN SILAU, PERTOLONGAN ALLAH SEJATI BILA KITA BERSAMA AGAMANYA - Rasulullah SAW Bersabda : Pasti kamu akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal-demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai jika mereka itu masuk ke lubang biawak, pasti kalian pun akan mengikutinya. Kami (para sahabat) berkata, Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani? Beliau menjawab, Lantas siapa lagi? (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Sebagian ulama menyebutkan, bahwa ikut-ikutan umat kepada Yahudi dan Nasrani dalam masalah keagamaan. Sedangkan ikut-ikutan kepada Persia dan Romani dalam urusan keduniaan, seperti politik, ekonomi, kehidupan sosial, dan lainnya.
Fenomena umat yang gemar berimitasi dan membebek kepada orang kafir tidak lepas dari hilangnya jati diri keislaman mereka dan lemahnya kebanggaan terhadap agamanya. Ini disebabkan karena lemahnya umat dan keterbelakangan negara-negara muslim dalam bidang ekonomi dan social. Di sisi lain, kondisi negara-negara kafir yang maju dalam berbagai bidang membuat mereka silau.
(Hakikat Kemajuan Kaum Kafir)
Allah Taala ingatkan kaum muslimin,
Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir (QS. Al-Taubah: 55)
Lemahnya kondisi kaum muslimin dan kuatnya kekuatan tidak bisa dijadikan pembenaran membebek kepada kaum kuffar dan menyerupai mereka sebagaimana yang diserukan kaum munafikin. Semua itu dikarenakan teks-teks syari yang mengharamkan tasyabbuh (menyerupai) dengan orang kafir dan larangan membebek kepada mereka tidak membedakan antara kondisi lemah dan kuat. Semua hanyalah giliran, kadang Islam diberi kejayaan kadang diberi waktu kemunduran, tetapi tidak dengan ajaran Allah yang sudah sempurna untuk diikuti.
Dan juga karena seorang muslim dengan segenap kemampuannya harus merasa mulia dengan agamanya dan terhormat dengan ke-Islamnya, sehingga pun saat mereka lemah dan terbelakang.
Allah SWT Berfirman : Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 139)
(Kehormatan adalah bersama Allah)
Allah Subhanahu wa Taala menyeru agar seorang muslim bangga dan terhormat dengan agamanya.
Dia menggolongkannya sebagai perkataan terbaik dan kehormatan yang termulia dalam firmannya,
Allah SWT Berfirman : Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri? (QS. Fushilat: 33)
Para Nabi-Nabi tatkala menyampaikan risalah, tidak dalam keadaan kuat dan mengalahkan mereka yang kafir dalam hal harta dan tahta. Ketika memegang Agama Allah, menyerukan dakwah dengan istiqomah, tidak menyembunyikan ayat tetap mengatakan kebenaran walaupun pahit dalam keadaan apapun mereka tegar, disanalah turun pertolongan Allah yang hakiki, dimana Allah memenangkan Agama-Nya. Ini adalah suatu Rumus dan kamus tanpa perlu kita galau duluan dengan menyaksikan kemegahan dunia yang dipegang sebagian besar mereka yang ingkar.
Maka tidak perlu mengambil cara-cara jahiliyah, menghalalkan segala cara, ambisius mengejar kemakmuran tetapi menyembunyikan dalil dst, bersabarlah dalam jalan Agama Allah yang suci, mengajak manusia kepada kebenaran, menguatkan iman, beramal shaleh, memakmurkan masjid, meningkatkan pemahaman Agama khususnya tauhid, jalan2 para Anbiya dan memperbanyak doa, Insya Allah kemudahan dan keselamatan dunia dan akhirat akan dibentangkan.
(Bersabar dalam Agama Allah)
Kelak akan sedikit mereka yang berjilbab, memegang Sunnah, mengutamakan shalat diatas perniagaan, pemimpin yang memegang syariat Allah sebagai rujukan utama, ulama yang haq dst akibat kebiasaan dan opini jahiliyah sulit terbendung, yang ada adalah bisikan jahiliyah yang menggampang2kan urusan agama tidak seperti masa awal2 Islam.
Anas bin Malik menuturkan, Rasulullah SAW bersabda maksudnya : Akan tiba suatu masa pada manusia, dimana orang yang bersabar dalam memegang Agamanya yg benar di antara ciri mereka dalam memegang agamanya, ibarat orang yang menggenggam bara api. (Hr. at-Tirmidzi)
Dengan redaksi yang berbeda, Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah SAW bersabda: Celakalah orang-orang Arab, yaitu keburukan yang benar-benar telah dekat; fitnah ibarat sepenggal malam yang gelap gulita. Pagi hari seseorang masih beriman, sorenya telah berubah menjadi Kafir. Kaum yang menjual agama mereka dengan tewaran dunia yang tidak seberapa. Maka, orang yang berpegang teguh pada agamanya, ibarat orang yang menggenggam bara api. (Ibn Hajar al-Haitsami, Majma az-Zawaid wa Manba al-Fawaid, juz VII, hal. 552)
Rasulullah SAW ketika ditanya oleh para sahabat, Wahai Rasulullah, apakah (kita) termasuk mereka? Beliau menjawab: Justru, mereka seperti kalian. Umar bin al-Khatthab menjelaskan takwil surat Ali ?Imran: 110 dengan menyatakan, Siapa saja yang mengerjakan amal sebagaimana yang kalian kerjakan, maka dia pun sama kedudukannya seperti kalian.. (Lihat, al-Qurthubi, al-Jami li Ahkam al-Quran, juz IV, hal. 170)
Imam al-Auzai pernah ditanya, Kapankah zaman tersebut? Beliau menjawab, Kalau bukan zaman kita sekarang ini, saya tidak tahu, kapankah zaman tersebut? (Lihat, Ibn Asakir, Tarikh Dimasqa, juz XXXVII, hal. 97). Kalau pada zaman al-Auzai sudah sedemikian parah, padahal hukum syara dan khilafah masih diterapkan oleh negara dan para penguasanya, lalu bagaimana dengan zaman kita?
dari : sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar