Senin, 29 April 2013

Benarkah Wanita Lebih Egois dari Pria?



Kalau tempo dulu pria akan bertekuk lutut di kerlingan mata wanita, maka sekarang bukan hanya kerlingan mata, tetapi juga bisa di bawah telunjuknya. Sejalan dengan peningkatan kesamaan hak (gender) dan otoritas, di mana hampir setiap bidang kerja dan usaha, bahkan kegiatan organisasi masyarakat maupun sosial politik, mulai lebih menonjol kaum hawa. Dengan adanya pergeseran otoritas, bahwa wanita lebih favorit untuk berhasil, tentu sedikit banyak dapat mempengharui egosentris kaum wanita. Yang kemudian muncul semacam perasaan meremehkan pria, di mana sebelumnya pada era 60-an dikenal dengan “pria menjajah wanita”.
Sebenarnya baik perempuan maupun laki-laki memiliki potensi egois, keinginan untuk lebih mementingkan diri sendiri dan merasa semua orang harus patuh kepadanya. Namun dari riset yang diadakan oleh organisasi relawan di Inggris terungkap bahwa ternyata data terperinci ditemukan perempuan jauh lebih egois. Sebagian menjalankan kegiatan sehariannya, lebih tertuju pada pikiran dan kepentingan sendiri, tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Sebuah survei memberi petun­juk bahwa ternyata perempuan lebih egois dari laki-laki. Pendapat ini bu­kan tidak beralasan, karena setelah d i a d a k a n penelitian mengenai sikap dan perilaku egois, dengan melibatkan 2.000 laki-laki dan perem­puan, didapati sekitar 50% dari mere­ka mengaku selalu berperilaku egois lebih dari dua kali dalam sehari. Se­mentara pengamatan perilaku dalam keseharian tentang keperdulian kepa­da sesama, didapati indikasi perem­puan memberi simpati kepada orang lain lebih rendah.
Sekitar 43 % perempuan tidak memiliki rasa simpati dengan orang lain, sedangkan laki-laki hanya seki­tar 38 %. Indikator sederhana digu­nakan sebagai parameter adalah :
1. Dalam hal kepemilikan materi/uang, perempuan memiliki se­buah motto: uang suamiku ada­lah uangku, sedangkan uangku adalah uangku juga.
2. Laki-laki lebih tergerak untuk membuka pintu kepada orang, hanya sekitar 19 % yang enggan membuka pintu, sedangkan pe-rempuan sekitar 20%.
3. Perempuan sekitar 32% lebih ke­beratan untuk membantu sese­orang yang berumur, menjinjing barang bawaannya, ketimbang laki-laki yang hanya sekitar 27%.
4. Dalam rasa kebersamaan antar pasangan, 27 % perempuan le-bih memilih yang dia sukai, tan­pa mepertimbangkan apa yang disukai pasangan laki-lakinya, sedangkan laki-laki hanya 26 %. Sebagai contoh
yyKetika memilih totonan di te-levisi, perempuan hanya memilih channel - channel sinetron, dan asik sendiri de-ngan ceritera - ceritera drama rumah tangga.
yyPergi berbelanja ke mall, perempuan akan lebih me­merlukan waktu beberapa jam, untuk berkelilingi dari satu outlet ke outlet lainnya, sementara laki-laki pasan­gannya sudah bosan dan terduduk kelelahan.
Menurut pemerhati gender Sita Thamar van Bemmelen (2002), ada ciri-ciri pengertian gender yang me­lekat pada pemikiran masyarakat. Bahwasanya wanita adalah sosok yang lemah lembut, emosional (peka perasaan), unik dan detil. Se­dang pria adalah sosok kuat, kasar, rasional (peka pikiran) dan simpel. Dalam perlakuan keseharian wanita sesuai gender, melakukan kegiatan sebagai ibu ruma tangga, tugasnya mengurusi urusan ke dalam rumah tangga. Sementara pria secara lang­sung akan menempati posisi sebagai kepala rumah tangga, dan bertugas mengurusi urusan ke luar rumah tangga sebagai pencari nafkah.
Jadi, dengan konsep gender (persamaan hak wanita pria), dimak­sudkan sebagai solusi mencapai emansipasi, sepertinya kurang tepat. Sebab maksud sebenarnya dari persamaan hak wanita pria itu ada­lah perjuangan kaum wanita untuk memperoleh hak menentukan nasib sendiri, hak memilih dan hak menda­patkan keadilan.
Walaupun demikian perjuangan ini patut disyukuri, sebab telah mem­beri dampak nyata, ruang gerak wanita tidak dikungkung seperti dulu. Peluang pendidikan terbuka sangat lebar dan setinggi mungkin, diberi kesempatan menyampaikan gaga­san dan pendapat seluas-luasnya dalam semua aspek kehidupan. Bidang-bidang yang sebelumnya lebih didominasi oleh kaum adam, sekarang secara perlahan namun pasti kaum hawa mulai menunjuk­kan prestasi gemilang. Bahkan di beberapa negara maju yang memiliki budaya relegius yang kuatpun, telah dipimpin oleh seorang wanita.
Kita patut bersyukur, saat ini kiprah wanita tidak lagi dipasung seperti dulu. Kaum hawa telah diizin­kan menempuh pendidikan, menge­luarkan pendapat dan gagasannnya dalam ranah politik, ekonomi, seni dan bidang-bidang lainnya. Prestas­inya pun cukup menggiurkan dalam sektor-sektor publik, bahkan telah tercatat, bangsa Indonesia juga per­nah dipimpin oleh seorang wanita.
Namun satu hal yang tidak dapat diubah, yaitu kodrat seorang wanita akan tetap sebagai wanita, ia diciptakan bukan dari tulang kepala, tetapi dari tulang rusuk kiri dekat dengan jantung hati untuk kasihi, dan dekat dengan lengan untuk dilindungi.
Setinggi apapun karier, dan sebesar apapun penghasilan yang diraih oleh perempuan, dia akan tetap seorang perempuan yang harus berbagi dengan pasangan laki-laki. Wanita tidak dapat hidup sendiri, begitu juga pria, sebab tidak baik manusia (laki-laki) itu hidup seorang diri saja, “Aku..”, kata Sang Pencipta, “akan menciptakan seorang perempuan yang sepadan dengannya sebagai penolong”.
Egois merupakan penyakit jiwa yang nikmat, tetapi dapat menjadi “bumerang” (kembali menerjang diri sendiri). Manusia adalah makhluk sosial, tidak mungkin dapat hidup sendiri, seorang egoisme secara tidak sadar ia telah mengasingkan dirinya sendiri. Mungkin ia ada dalam kesibukan dan hiruk pikuk keramaian, namun sesungguhnya perasaan di kedalaman batin berada di tempat sunyi, sepi dan gersang. (aryo)
dari : sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar