Senin, 29 April 2013

Kekayaan yang Membawa Kehancuran



Sudah menjadi idaman setiap orang untuk meraih kekayaan dalam hal materi, karena dengan materi kita bisa membeli apa saja sampai ada lagu yang berlirik “Money make the world go round”. Pikiran-pikiran itu sudah menjadi gaya hidup dari zaman ke zaman. Apalagi orang yang dilahirkan dari keluarga miskin, mereka akan mati-matian berusaha untuk menjadi kaya dan seakan-akan kekayaan sudah menjadi tujuan hidupnya. Budaya ini nampaknya sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat dunia, termasuk di tanah air kita.
Karena kekayaan adalah tujuan hidupnya, mereka sudah tidak mempedulikan lagi akibat atau dampak buruk dari kekayaan yang diperoleh secara membabi-buta, apakah itu akan merugikan diri sendiri, keluarga atau orang lain.
zzKekayaan yang merugikan diri sendiri
Banyak orang yang meraih kekayaannya dari jerih payah yang luar biasa, bekerja keras hingga larut malam. Kurang ada waktu untuk makan pada saat yang tepat, bahkan sering lupa makan karena harus menghadiri banyak kegiatan. Hidupnya hanya terfokus pada kesuksesan materi, dan lupa bahwa mereka perlu memiliki pola hidup sehat, perlu istirahat dan menikmati hidup.
Bertahun-tahun sudah menjadi kebiasaan orang kaya ini yang bekerja keras hingga larut malam. Tanpa disadari dia lupa untuk merawat diri dan kelihatan lesu, tua dan kesehatannya menurun. Bahkan ada juga yang meninggal pada umur yang relatif muda karena terkena penyakit kanker, lever, jantung dan stroke akibat stres dan pola hidup yang tidak sehat. Didorong oleh ambisi untuk menjadi kaya, hubungan dengan suami/istri dan anak-anaknya juga semakin renggang dan tidak harmonis.
zzKekayaan yang merugikan keluarga
Ada sebagian orang ketika masih hidup sederhana dan susah, kehidupannya diwarnai dengan kebahagiaan, karena masih sering meluangkan waktu bersama dengan keluarga. Tetapi setelah mencapai kemakmuran, suami sering pulang ke rumah tidak tepat waktu, bahkan pulangnya sampai larut malam, karena harus menghadiri rapat dan undangan, makan dengan rekan bisnis. Karena seringnya pulang larut malam, hubungan keluarga jadi renggang. Anak-anak jarang bertemu atau berbincang-bincang, tukar pikiran dengan ayahnya. Ada juga suami yang berpaling pada wanita lain karena banyaknya godaan di dalam dan luar kantor, bahkan punya wanita idaman lain (WIL) sebagai ‘istri simpanan’, di luar sepengetahuan istrinya.
Ironisnya, sang istri juga tak mau kalah dengan tindakan suaminya, sebagai pelampiasan sakit hati, ia menjalin hubungan gelap (ada ‘affair’) dengan pria idaman lain (PIL)/brondong, hadir dalam berbagai pesta, ‘shopping’ setiap hari, dan sibuk dengan berbagai kegiatan. Karena kedua orang tuanya jarang di rumah dan tidak ada komunikasi sehingga anak-anaknya merasa kesepian dan kehilangan kasih sayang dan rasa percaya diri, kecewa, sedih, bahkan depresi dan problem emosi negatif lainnya. Anak-anak pun cenderung melampiaskannya ke berbagai kegiatan negatif, seperti pesta-pora (clubing), drug, seks bebas, menelan pil penenang karena depresi, anak wanita mencari kasih sayang kepada om senang untuk dihibur atau seorang pria sebagai figur ayah sampai terjadi hubungan seks dan ada juga yang menikah di luar restu orang tua. Di antara mereka, ada juga yang bunuh diri dengan minum obat tidur over dosis atau memakan pil anti depresi.
Karena kedua orang tuanya tak peduli agama, hidupnya jauh dari Tuhan, sehingga mereka
tak beriman dan menyadari bahwa rumah tangganya sudah di ambang kehancuran. Banyak keluarga dalam keadaan seperti ini masih saja bangga dengan kekayaan yang dimiliki, karena uang telah menjadi tujuan hidupnya. Mereka sudah dibutakan oleh harta dan tak menyadari bahwa mereka sedang berada di padang gurun. Tidak ada sentuhan kasih dalam keluarga itu, hari demi hari hanya kesibukan dan kerja keras hingga larut malam. Anak-anak juga punya kesibukan sendiri pergi ke luar rumah seenaknya dan kegiatan lainnya.
Yang lebih parah, ada orang yang memperoleh kekayaannya dengan menghalalkan segala cara, misalnya menjual diri, main judi, korupsi, pergi ke dukun/paranormal, ke gunung Kawi dan berguru ilmu hitam/putih, dengan persyaratan meminta korban salah satu dari anggota keluarga. Karena kekayaan menjadi tujuan utama, mereka sudah tidak peduli dengan segala akibatnya.
zzKekayaan yang merugikan orang lain
Dalam Bisnis/Karir/Politik :
Semakin banyak persaingan di dunia bisnis/karir/politik saat ini, semakin orang tak peduli apakah kekayaan yang diperoleh akan merugikan orang lain. Ada pengusaha yang tega membiarkan pesaingnya rugi/ bangkrut dengan cara licik, jahat dan penuh tipu muslihat. Bahkan ada yang menyebabkan orang lain meninggal dunia karena ‘shock’ akibat perusahaannya diambil alih secara paksa, tanpa belas kasihan.
Ada orang kaya yang memperoleh kekayaannya dengan merugikan orang banyak, sehingga menyengsarakan orang-orang sederhana. Ulah orang kaya seperti ini tentu sangat keji, yaitu menindas orang miskin dan lemah demi ambisi pribadinya untuk kesenangan dan keserakahan. Betapa sedihnya bahwa kekayaannya diperoleh di atas penderitaan orang lain. Berpikirlah sejenak dan bayangkan kalau Anda berada di posisi orang miskin dan tertindas ini, bagaimana rasanya?
Perusak rumah tangga orang:
 Banyak para wanita muda yang tak punya keahlian yang menonjol dan di antara mereka ada yang merayu suami orang dengan daya tarik kecantikan dan sensualitasnya. Seperti ada kasus seorang suami yang digaet oleh seorang wanita yang lebih rendah tingkat pendidikan maupun kecantikannya daripada istri pertamanya. Wanita ini dengan bangganya memamerkan suaminya yang kaya di depan umum dengan hadiah-hadiah yang diberikan dari hasil rayuan mautnya. Wanita ini tidak menyadari, betapa tidak bermoralnya dia dengan memamerkan semua yang diberikan oleh pria yang sudah berkeluarga itu, menyakiti perasaaan istri pertamanya dan anak-anaknya.
Kalau ia seorang yang bermoral dan berpendidikan tentu ia tidak akan bangga memamerkan di depan umum karena prihatin dan menjaga perasaan istri pertamanya dan anak-anaknya. Pria kaya yang menjadi suaminya itu juga tidak menyadari, bahwa raut mukanya sudah bertambah tua dan kusam. Wanita yang telah menjadi istri keduanya nampak tidak simpati dan wajahnya lambat laun menjadi layu karena hatinya jahat dan serakah. Wanita ini tidak menyadari akan dosanya, sehingga tak peduli akan akibat ulahnya menggunakan ilmu hitam untuk ‘menundukkan’ pria kaya itu. Sebaiknya wanita yang telah merebut suami orang cobalah merenungkan seandainya Anda berada di posisi sebagai istri pertama pria itu. Jadi kalau kita tidak mau disakiti janganlah kita menyakiti orang lain.
Dari hasil selingkuh:
Ada juga pria/wanita yang jadi kaya karena selingkuh/‘affair’ dengan bos. Bos pria/wanita ini punya simpanan di luar pernikahan dan memberikan hadiah-hadiah, seperti rumah/apartemen, mobil, perhiasan, dan kemewahan lainnya. Bahkan ada di antara pasangan selingkuh yang kumpul kebo dan hidup sebagai suami istri, tanpa diketahui pasangannya. Hartalah yang menjadi tujuan hidup mereka. Pria/wanita perayu ini sudah tidak peduli lagi dengan perasaan pasangan dan anak-anaknya dan dampak yang terjadi di kemudian hari.
Dari rangkuman tulisan di atas sebaiknya kita memperoleh kekayaan dari jerih payah yang tidak merugikan diri sendiri, keluarga dan orang lain. Ingatlah, setiap perbuatan kita, apakah itu baik atau jahat pasti ada balasannya. Jadi, akibat dari perbuatan setiap orang, cepat atau lambat pasti akan dialaminya. Tuhan itu Pengasih dan Maha adil, dan Tuhan tidak bisa dipermainkan oleh manusia, karena apa yang ditabur seseorang pasti akan dituai olehnya. Jadi, janganlah mengira Anda akan lolos dari penghakiman yang Maha kuasa.
Apa yang yang harus kita lakukan kalau keadaan kita sudah hancur? Sebaiknya kita intropeksi diri dan bertobat dengan sungguh-sungguh karena tindakan ini akan melunakkan hati Tuhan sebagai langkah awal pembaharuan hidup. Dengan rendah hati dan mengakui dosa-dosa kita dan minta pengampunan-Nya, maka semua kejadian buruk lainnya tidak akan menimpa kita. Sadarlah sebelum terlambat, karena penyesalan di kemudian hari tidak akan ada gunanya. (Cathy W)

Kekayaan adalah berkat kalau digunakan dengan baik, tetapi menjadi kutuk kalau digunakan secara tidak benar. Kekayaan bisa membawa kehancuran, tetapi bisa juga membawa kebahagiaan.
dari : sumber 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar