Senin, 29 April 2013
Kumpul Kebo
Kumpul kebo dalam arti hidup bersama dan melakukan hubungan seksual tanpa ikatan nikah, merupakan fenomena yang sangat biasa dan dimaklumi secara kultural di negara-negara barat. Sebut saja di Amerika Serikat, 80% wanitanya suka kumpul kebo. Bahkan, orang muda di Inggris lebih parah. Penelitian Centre for Social Justice menunjukkan, pasangan kumpul kebo di Inggris sebelum tahun 1945 jumlahnya mencapai kurang dari 5%, namun kini melonjak hingga 90%, dan pasangan yang hidup seatap dengan status menikah hanya sekitar 10% saja.
Para wanita di negara barat berkecenderungan untuk kumpul kebo daripada menikah karena perlindungan hukum kepada pasangan wanita yang kumpul kebo sama seperti perlindungan pasangan yang bersuami dalam menikah secara resmi. Jadi kalau perlindungan hukum kepada wanita kumpul kebo itu sama seperti perlindungan terhadap seorang istri, wajar kalau wanita menjadi lebih cenderung untuk tidak menikah, karena dengan tidak menikah, maka si wanita memiliki kebebasan lebih daripada diikat dalam pernikahan.
Bagaimana kumpul kebo di Indonesia? Wanita yang kumpul kebo sering jadi korban, ia hanya dijanjikan nikah oleh calon suaminya. Kalau seorang wanita punya anak akibat kumpul kebo, anak yang lahir itu tetap menjadi tanggung jawab berdua secara hukumnya. Tapi anak dari pasangan kumpul kebo diberi label ‘anak haram’ dan nasibnya tidak dilindungi secara hukum.
Pasangan kumpul kebo mudah stres dan depresi
Peneliti Robin dan Feigers di Amerika Serikat membuktikan, mereka yang menikah adalah mereka yang punya tingkat depresi paling rendah, dan mereka yang kumpul kebo memiliki tingkat depresi 5 kali lipat dibandingkan dengan mereka yang menikah. Dan mereka yang menikah punya tingkat kebahagiaan 5 kali lipat dari pada mereka yang kumpul kebo. Pelaku kumpul kebo jauh lebih menderita daripada yang menikah. Mereka yang kumpul kebo kurang menikmati dukungan dari pasangan dan kurang merasa terikat, padahal perasaan terikat dengan pasangan menyebabkan orang yang menikah lebih berbahagia.
Pasangan kumpul kebo sebelum menikah rawan bertengkar dan saling melukai
Menurut Gavin Poole, peneliti Centre for Social Justice, tingginya angka kumpul kebo merupakan faktor kunci meningkatnya keretakan keluarga di negara Inggris, yang menunjukkan belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Berdasarkan bukti yang ada, perkawinan dan komitmen cenderung lebih menstabilkan dan mempererat keluarga, dan tidak dapat disepelekan. Pasangan kumpul kebo yang akhirnya menikah cenderung sering bertengkar dan saling melukai pasangannya melalui sikap, tindakan, dan perkataan.
Pasangan kumpul kebo sebelum menikah rawan cerai
Peneliti Dr. Catherine L. Cohan dan Stacey Kleinbaum menyimpulkan bahwa pasangan yang hidup bersama sebelum menikah lebih mungkin bermasalah dalam komunikasi antar pasangan, sehingga rawan bercerai. Kepada 92 pasangan yang sudah menikah sekitar 2 tahun, ditanyakan kepuasan mereka dalam perkawinan, riwayat depresi, penyalahgunaan minuman beralkohol, hingga penggunaan agresivitas fisik dalam memecahkan persoalan perkawinan. Responden juga diminta berdiskusi membahas permasalahan seputar perkawinan.
Hasilnya, pasangan yang hidup bersama sebelum menikah kurang bersikap positif, dan justru bersikap negatif, bila harus membahas persoalan dalam perkawinan dan menyediakan dukungan bagi pasangan mereka. Sebaliknya, secara verbal mereka lebih agresif dan lebih mudah saling bersikap bermusuhan dibandingkan dengan pasangan yang sebelumnya tidak kumpul kebo. Saat memasuki perkawinan pasangan yang pernah kumpul kebo memiliki komitmen yang lebih rendah.
Jagalah hidup kita dengan baik, tolak perilaku dan gaya hidup kumpul kebo! Karena pergaulan yang buruk, merusak perbuatan yang baik. Herry P. Jonathan
dari : sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar